Dilarang Gondrong!

Di masa Orde Baru atau Orba, jika tindakan kriminal dilakukan oleh orang-orang gundul dianggap aneh. Orba yang terkenal dengan fasismenya teryata tidak hanya takut dengan Komunis, tetapi juga kepada Gondrong. dengan jargon “pembangunan” yang diusung pada masa Orba, tak pelak urusan-urasan kecil menjadi perhatian penguasa saat itu untuk menciptakan generasi yang siap melanjutkan pembangunan.

Buku Dilarang Gondrong!, yang ditulis oleh Aria Wiratma Yudistira menuliskan mengenai Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an. Pada awalnya, buku ini merupakan proyek studi yang dikerjakan oleh Arya untuk skripsi di Departemen Sejarah Universitas Indonesia. Arya menganggap bahwa persoalan rambut gondrong sangat erat kejadiaannya dengan sejarah yang terjadi pada pemerintahan yang baru saja dibangun tersebut, dengan melihat tumpukan koran terbitan 1970an tentang aksi-aksi anti rambut gondrong.

Pada masa Orba, jalinan kekuasaan yang dikemukaan oleh Shiraishi, bahwa Indonesia dibangun layaknya keluarga besar. Di sana ada “Bapak”,”Ibu”, dan “Anak”, dan Soeharto menempatkan dirinya sebagai “Bapak tertinggi” (Superme father). Jika menggunakan perspektif yang dikemukakan oleh Shiraishi, maka terdapat kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok tua kepada kelompok muda dengan pandangan jika kelompok tua adalah orang yang lebih pernah mengalami pahit manis atau lebih kepada kedewasaan pandangan karena pengalaman yang pernah mereka alami, sementara kelompok muda adalah mereka yang minim pengalaman dan pengetahuan.

Penguasa dan Anak Muda

Arya dalam studinya membagi antara siapa penguasa dan siapa anak muda. Penguasa ialah para orang tua yang pernah mengalami masa kolonialisme, imprealisme, dan berjuang dalam merebut kemedekaan. Karena pengalaman hidup yang mereka telah alami, maka orang tua lebih menghegemoni bagaimana kemauannya kepada anak-anaknya. Terlebih pada masa Orba, jargon “pembangunan” yang menggantikan jargon“revolusi” lebih mengarah kepada menyiapkan generasi penerus bangsa hingga bagi mereka, anak-anak muda perlu dibina dan dididik agar mampu mengembang tugas pada masa depan.

Anak muda sendiri dalam studinya dibagi menjadi dua jenis, yaitu mereka yang bersikap apatis terhadap persoalan politik di dalam negeri atau mereka yang bersikap apolitis. Yang lainnnya, ialah mereka yang memiliki kesadaran lebih tinggi akan persoalan bangsannya seperti persoalan korupsi, dan sistem politik. Selain itu, mereka juga memiliki idealisme yang sering sekali bertentangan dengan kenyataan yang tengah terjadi didalam masyarakatnya, yang disebut kelompok mahasiswa (Aria Wiratma Yudistira, Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an, hal.11).

Relasi Militer dan Pemuda

Kata pemuda di Indonesia sejak awal abad 20 sering berkonotasi kepada mereka yang bergejolak dalam revolusi atau ikut campurnya pemuda dalam kehidupan politik. Sejarah Indonesia tak lepas dari peranan pemuda, bahkan peranan sentral pemuda terlihat ketika sebelum proklamasi, di mana gologan muda menculik Soekarno dan Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Di masa demokrasi terpimpin, pemuda juga memiliki peranan sentral tatkala menyoal konsepsi Presiden untuk kembali pada UUD 1945 yang disebut angkatan ’57. Tatkala masa demokrasi terpimpin akan berakhir dan awal kekuasaan Orde Baru, pemuda juga memiliki andil dalam penentuan sikap, yang biasa disebut sebagai angkatan ’66.

Relasi militer dengan pemuda yang tergabung dengan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), ketika penggulingan demokrasi terpimpin, disebut dengan Partnership, dibuktikan dengan andilnya Angkatan Darat. Namun yang tak bisa diabaikan bahwa keberhasilan aktivitas politik orang-orang muda, khususnya mahasiswa, untuk menumbangkan kekuasaan Sukarno tidak lepas dari dukungan tentara terutama Angkatan Darat (Aria Wiratma Yudistira, Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an, hal.17).

Tetapi pada masa orde baru, partnership yang terbangun antara pemuda terkhususnya mahasiswa dengan militer terjadi kesenjangan. Dan juga arti kata pemuda didefenisikan kembali dari kata pemuda yang berkonotasi politik dan bersifat revolusioner, menjadi remaja atau ABG (Anak Baru Gede). Orde Baru memandang anak muda adalah gologan yang belum matang sehingga dibutuhkan pengawasan kepada mereka, dan kegiatan politik yang dilakukan oleh golongan muda tidak lagi seperti masa demokrasi terpimpin. Kegiatan politik yang melibatkan pemuda hanya berada pada kalangan pelajar di universtas atau disebut mahasiswa.

Bagaimana Gondrong Dicitrakan

Berawal dari pernyataan Jendral Soemitro yang menjabat sebagai Pangkopkamtib di sebuah acara bincang-bincang di TVRI padaa Senin malam 1 Oktober 1973 yang mengatakan bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi onverschillig alias acuh tak acuh. Pernyataan yang kontroversial seorang Pangkopkamtib pada permasalahan rambut, yang seharusnya merupakan selera masing-masing, mendapat protes dari kalangan anak-anak muda. Pada 10 Oktober 1973, sekitar 11 orang delegasi Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (DM-ITB) yang dipimpin ketuanya, Muslim Tampubolon, mendatangi DRP-RI di Jakarta untuk memprotes Pangkopkamtib.

Peristiwa pernyataan Pangkopkamtib terhadap rambut gondrong dan protes mahasiswa terhadap pernyataan tersebut makin merenggangkan hubungan mahasiswa dengan militer yang sebelum-sebelumnya diwarnai dengan protes-protes ketidakpuasan mahasiswa dengan merajalelanya korupsi, kenaikan BBM, proyek pembangunan Miniatur Indonesia (Taman Mini Indonesia Indah), dan juga persoalan politik, misalnya saja, persoalan pemilu 1971, partai-partai politik, maupun intervensi pemerintah dalam pemilihan pimpinan MPR/DPR.

Orde Baru yang baru saja memulai pembangunannya dengan kebijakan pemerintahan terhadap investor asing masuk dengan bebas tak pelak juga membawa pengaruh barat masuk dengan bebas ke dalam Indonesia dengan cepat, dibuktikan dengan gaya hidup Hippies sebagai sebuah gagasan baru pada kehidupan saat itu, yang mana anak muda yang jenuh dengan peperangan Amerika dan Uni Soviet membawa semangat perdamaian di kalangan anak muda Amerika. Hippies ini sangat muda dikenali dengan penampilannya yang eksentrik. Seperti rambut panjang, jenggot dibiarkan panjang, pakaian longgar yang beraneka macam warna, dan perempuannya tidak memakai bra.

Budaya Hippies atau Flower generation di Indonesia dianggap sebagai kiri baru sehingga pemerintah pada saat itu sangat antipati dengan hal-hal yang berhubungan dengan gaya Hippies terutama dengan rambut gondrong. Pencitraan gondrong pada masa Orde baru tak juga lepas dari peran media massa seperti : “7 Pemuda Gondrong Merampok Biskota”, “Waktu Mabuk Di Pabrik Peti Mati: 6 Pemuda Gondrong Perkosa 2 Wanita”, “5 Pemuda Gondrong Memeras Pakai Surat Ancaman”, “Disambar Si Gondrong” (Aria Wiratma Yudistira, Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an, hal.104).

Rambut gondrong diidentikan dengan segala bentuk kriminalitas untuk membangun mindset di tengah masyarakat, bahwa gondrong itu adalah kriminal, atau rambut gondrong tidak sesuai dengan identitas nasional. Dengan mindset tentang gondrong, maka aksi anti-rambut gondrong semakin menderu dengan dalih menyelamatkan generasi muda. razia di jalan-jalan raya untuk merapikan potongan rambut serta pakaian agar sesuai dengan kepribadian bangsa adalah pandangan umum pada masa aksi anti-rambut gondrong. Larangan berambut gondrong juga diberlakukan di kantor pemerintahan, sekolah, kampus, stasiun televisi, dsb. Bahkan Gubernur Sumatra Utara membentuk badan khusus yang bertugas memberantas rambut gondrong yang diberi nama BAKORPRAGON atau Badan Kordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong.

Penutup

Arya juga menuliskan tentang bagaimana gondrong pada masa orde baru adalah cikal bakal kerusuhan pertandingan sepak bola yang awalnya sebagai upaya perdamaian antara ITB dan Taruna AKABRI, tetapi berujung dengan tewasnya Rene Louis Coenraad, mahasiswa jurusan teknik elektro ITB akibat pengeroyokan yang dilakukan Taruna AKABRI. Peristiwa itu disebut peristiwa 6 Oktober 1970. Tewasnya seorang mahasiswa di tangan angkatan bersenjata semakin menggebukan semangat mahasiswa hingga peristiwa Malapetaka 15 Januari atau MALARI pecah dan menjadi simbol berakhirnya partnership yang dibangun anak-anak muda dengan angkatan bersenjata ketika meruntuhkan Orde Lama.

Setelah peristiwa itu terjadi, aktivitas anak muda semakin dijauhkan dengan aktivitas politik. Mahasiswa dibungkam lewat kebijakan-kebijakan normalisasi kampus. Sementara cengkraman pemerintah semakin menguat, hingga, pada tahun 1998, mahasiswa menumbangkan rezim Soeharto yang dikenal dengan angkatan ’98.

Posting Komentar

0 Komentar