Pada peringatan milad HmI yang pertama di Yogyakarta pada tahun 1948, Jenderal Sudirman menyampaikan pada pidatonya bahwa HmI adalah harapan masyarakat Indonesia. Tidak berlebihan pernyataan tersebut, mengingat peran dan tanggung jawab kader-kader HmI sebagai generasi penerus dan menjadi harapan bangsa Indonesia ke depan. Jika dikaitkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, maka intelektual adalah mereka yang mempunyai ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi yang di plikasikan untuk kemajuan suatu bangsa dan negaranya. Seseorang yang mempunyai tanggung jawab sosial yang selalu memadukan otak secara rasional, dan perilaku baik untuk masyarakat. Di dalam kitab suci Al-Qur’an, seseorang yang menyatukan antara otak dan perilaku baik disebut sebagai ulul albab, yaitu seseorang yang selalu diberkahi dalam tindakannya.
Tujuan HmI yang selalu ada didalam pikiran setiap kader agar menjadi seorang insan yang
akademis, pencipta, dan pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggungjawab, tak bisa dinafikan lagi bahwa kader HmI dipersiapkan untuk menjawab tantangan zaman ked epannya. HmI (Himpunan mahasiswa Islam) sebagai organisasi perkaderan terbesar, telah menjadi wadah berproses
bagi setiap generasi. Termasuk generasi saat ini, yang tentunya memiliki warna yang
baru, yaitu dengan perkembangan digital sehingga generasi saat ini disebut
dengan generasi millenial.
Millenial
atau sering disebut sebagai generasi Y adalah generasi yang lahir kisaran tahun
1980-1999, atau saat ini seseorang yang berumur 17-37 yang ditandai dengan
kemajuan teknologi yang semakin pesat dan persaingan yang semakin ketat. Tentunya, generasi ini berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti apa yang
dikatakan oleh Zainuddin Ali dalam bukunya Millenial Nusantara bahwa generasi
millenial memiliki tiga karakter yang jarang dimiliki oleh generasi sebelumnya,
yaitu connected (pandai bersosialisasi), creative (pandai melihat peluang), dan convidence (memiliki kepercayaan diri). Dengan kemajuan teknologi dan
perkembangan zaman, HmI tentu harus mampu menjadi pelopor untuk mempersiapkan
setiap kader agar memanfaatkan kemajuan digital. Kader HmI bercita-cita agar HmI selalu menjadi sekolah terbaik diantara tempat pendidikan lainnya, sementara NDP menjadi
sebaik-baiknya pegangan bagi setiap kader.
NDP dalam Era Millenial
NDP adalah
dokumen ajar tertua di HmI yang masih digunakan sampai sekarang. NDP (nilai dsar perjuangan) merupakan buah
pemikiran Nurcholis Madjid yang dijadikan sebagai ideologi perjuangan bagi
setiap kader di HmI. Pemahaman akan NDP diharapkan mampu menumbuhkan semangat bagi
kader, dan menjadi sumber nilai moral yang mengiringi ilmu pengetahuan untuk diabdikan
bagi umma. Dengan demikian, nilai-nilai NDP menjadi identitas bagi setiap kader HmI. Nurcholis Madjid sebagai perumus NDP, ketika ditanya apakah NDP masih
relevan dengan kondisi sekarang atau perlu diganti, beliau mengatakan; "bisa saja
selama tingkat intelektualnya tidak lebih rendah dari apa yang sudah ada
sekarang" (Muhammad Ridal, HmI Milenial, 2017: hal 4).
Implementasi NDP dalam Era Millenial
Keberadaan
NDP merupakan panduan bagi kader HmI agar bisa memahami Islam dengan baik. Dalam era millenial, seharusnya tidak lagi memperdebatkan apakah NDP lama atau NDP baru yang digunakan pada forum basic training,
melainkan NDP yang konstitusional dan mampu menyesuaikan dengan era millenial ini. Saatnya HmI merumuskun formulasi NDP baru yang sesuai dengan era millenial. Menjadikan NDP sebagai jalan hidup bukan sebagai gagasan primer akan
melahirkan berbagai macam ideologi aksi. Jika pemahaman ini dibiarkan, maka niscaya
10-20 tahun akan datang kita akan melihat wajah baru HmI dengan beragam warna. Kita harus membangun semangat, mengingat penindasan, kekejaman, dan diskriminasi
masih terjadi di setiap sendi-sendi kehidupan kita hari ini dalam berbangsa dan
bernegara (Muhammad Ridal, HmI Milenial, 2017: hal 8).
Akselerasi Intelektual HmI
Sayyidina Ali bin Abu Thalib berpsean: “Didiklah anakmu
sesuai konteks zamannya." Hikmah yang dapat diambil dari pesan ini adalah
setiap zaman memiliki problematikamya sendiri. Itu artinya, orangtua tidak
boleh memaksakan pola pendidikannya kepada anaknya, karena zamannya berbeda, Begitupun dengan HmI, apa yang diajarkan pada
latihan kader satu era Lafran Pane tentu berbeda dengan konteks Cak Nur. Apa
yang diajarkan pada zaman Cak Nur, berbeda dengan zaman Anies Baswedan.
Begitu seterusnya hingga sampai kepada generasi kita
Intelektual sebagai Katalis Perubahan
Ayatullah Imam Khumaini menyatakan, bahwa "syarat untuk
menjadi pemimpin terdiri dari dua secara garis besar, yaitu adil dan cerdas. Dengan kecerdasan yang dimiliki, ia mampu
memberikan tatanan yang baik dan benar. Dengan keadilan, ia mampu
mengarahkan tatanan kepada sesuatu yang baik dan benar. Dari pemahaman tersebut, penetrasi dari kaum intelektual merupakan subyek yang paling menentukan, yang
mengarahkan aksi massa pada penggunaan teknologi dan metodeologi yang tepat
menuju cita bersama. Apa lagi pada zaman kita yang serba cepat. Tanpa kemudi
intelektual, kendaraan yang bernama HmI bukan hanya ketinggalan, namun justru
akan mengalami kecelakaan sejarah.
Modernisasi Kelembagaan HmI
Modernisasi
kelembagaan di tubuh HmI merupakan sebuah keharusan,
mengingat arus globalisasi yang semakin ganas merongrong setiap sendi
kehidupan masyarakat. Metodeologi yang diterapkan lamban dimodernisasi. HmI perlu format baru dalam menyusun setiap fragmen kelembagaan,
termasuk agar NDP tidak diralat di setiap cabang. Setiap geliat pengetahuan
dapat melahirkan ideologi cabang. Memanfaatkan teknologi saat ini tentu akan
menjadi jalur yang dapat menyatukan dan mengembangkan sistem kelembagaan. Selanjutnya, format yang harus dilakukan adalah agenda perkaderan,cpelatihan,cdan gerakan sosial lainnya. Sistem pengkaderan mesti memaksa
komisariat dan cabang untuk bekerja keras dalam mengembangkan kreativitas dalam
melakukan pelatihan. Dengan begitu, HmI dapat merespon setiap perubahan yang
muncul, dengan kecepatan berpikir dan bertindak.

0 Komentar